4 Juni 2012 - 00:44

"Interaksi dengan negara dan kebudayaan lain turut memicu majunya keilmuan Islam. Para ulama dituntut untuk menemukan formula baru dalam merealisasikan amalan-amalan Islam dalam bentuk yang berbeda sebagaimana yang dihadapi masa Nabi dulu, sebab kondisinya telah berubah atau berbeda. "

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi dalam pertemuannya dengan para ilmuan dan peneliti di kantor sekretariat Yayasan Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini Qom Iran menyarakan, "Kalau kita hendak menelusuri sejarah lahir dan berkembangnya ilmu-ilmu Islam kita dapat memulainya dari zaman para khulafa, karena di zaman Khulafa ilmu-ilmu Islam tumbuh dan berkembang pesat." "Dimasa Rasulullah disebabkan adanya peperangan dan berbagai kesulitan yang dihadapi umat Islam, keilmuan Islam belum tumbuh apalagi dalam bentuk lembaga pendidikan modern sebagaimana yang kita kenal." Tambahnya. Ketua Yayasan Pendidikan dan Penelitian Imam Khomaini ra tersebut lebih lanjut menyatakan, "Dimasa Rasulullah, umat Islam menanyakan langsung kepada nabi permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi dan Nabipun menjawab pertanyaan mereka dalam berbagai kesempatan, di masjid atau di tempat-tempat lainnya. Tanya jawab antar Nabi dan umat Islam kala itu hanya dalam persoalan-persoalan yang sederhana dan mengenai tafsir beberapa ayat. Belum dalam bentuk pertanyaan mendetail dan spesifik yang timbul dari pemikiran atau perenungan yang mendalam, sehingga saat itu keilmuan Islam belum tumbuh dan berkembang." "Namun dimasa khulafa, kondisinya jadi berbeda. Interaksi umat Islam dengan umat lainnya yang memiliki berbagai keyakinan dan pemahaman memancing umat Islam turut memperkaya khazanah keislamannya. Ilmu-ilmu Islam mengalami kemajuan dan perkembangan yang pesat khususnya ilmu kalam yang membahas mengenai ilmu-ilmu keagamaan dengan pendekatan akal dan rasionalitas." "Dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan kekhalifaan Islam, menuntut kaum terpelajar Islam menyebar dan melakukan perjalanan keberbagai daerah untuk mengajarkan dan mendakwahkan Islam. Tentu saja, dalam dakwah mereka terhadap orang-orang yang sama sekali belum mengenal Islam adalah dengan pendekatan akal atau rasio. Orang-orang yang mereka temui dan hadapi diajak untuk memikirkan mengenai hakikat penciptaan dan keberadaan Tuhan. Setelah mereka menerima Islam, barulah diajarkan kepada mereka mengenai Al-Qur'an dan tafsirnya serta sunnah-sunnah Nabi." Lanjut ulama yang juga dikenal sebagai filosof tersebut. "Interaksi dengan negara dan kebudayaan lain turut memicu majunya keilmuan Islam. Para ulama dituntut untuk menemukan formula baru dalam merealisasikan amalan-amalan Islam dalam bentuk yang berbeda sebagaimana yang dihadapi masa Nabi dulu sebab kondisinya telah berubah atau berbeda. Dimasa Imam Baqir as dan Imam Shadiq as turut menghadapi kondisi dan situasi yang demikian, terlebih lagi masuknya pengaruh dan kebudayaan Romawi dalam masyarakat Islam. Pemikir-pemikir dan kaum cerdik pandai Romawi menyuntikkan hal-hal baru dalam masyarakat Islam yang membuat ilmuan Islam menjadikan wacana-wacana dalam Islam sebagai bahan kajian dan riset. Muncullah kemudian polemik dan perbedaan pendapat dikalangan umat Islam. Dan pembahasan teologi yang paling klasik adalah masalah qada dan qadar" "Dimasa kekhalifaan Ma'mun, keilmuan Islam mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Pusat penelitian dan riset didirikan dengan nama Darul Hikmah. Penerjemahan kitab-kitab agama lain dilakukan secara massif, sehingga lahirlah ilmuan-ilmuan dan cendekiawan-cendekiawan Islam bak jamur di musim hujan. Yang berkembang pesat disaat itu adalah ilmu-ilmu akal atau rasio, sangat berbanding terbalik dengan saat ini, yang menjadi minat adalah sains dan teknologi." Ayatullah Misbah Yazdi dalam pembicaraan selanjutnya menyinggung mengenai perbedaan ilmu akal dengan sains. "Ilmu akal dalam perkembangan selanjutnya mengalami kemunduran dan akhirnya menjadi vakum seiring dengan revolusi industri di Inggris. Salah satu penyebabnya, ilmu akal atau pemikiran tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan hidup sehari-hari, sementara Sains semakin memudahkan kehidupan dengan ditemukannya tekhnologi-tekhnologi canggih yang membantu manusia mengerjakan tugas-tugas kesehariannya." "Sains memberikan dampak yang langsung tampak nyata dalam kehidupan sementara efek dari ilmu akal atau pemikiran tidak menjangkau semua orang, sehingga setiap orang tidak merasakan itu sebagai kebutuhan primer. Hal itulah diantara faktor pemicu rendahnya minat dikalangan umat Islam khususnya menggeluti bidang-bidang ilmu akal atau pemikiran." "Sementara ilmu akal justru merupakan akar dari semua cabang ilmu, seseorang tidak akan mungkin bisa memberikan penjelasan tentang sesuatu dengan baik sebelum ia memahami lebih dahulu sesuatu itu dengan baik. Ayatullah Muthahari mampu memberikan sanggahan terhadap doktrin materailisme pengikut Marxisme karena telah terlebih dahulu mempelajari pokok-pokok pemikiran Marxisme yang dengan itu ia memberikan sanggahan dan bantahannya." Dipenghujung ceramahnya, Ayatullah Misbah Yazdi menghimbau agar umat Islam turut memberikan perhatian terhadap ilmu-ilmu akal, sebab Barat dan musuh-musuh Islam hendak menghancurkan Islam melalui pemikiran-pemikiran baru yang sangat menyimpang. "Salah satu caranya kita memajukan ilmu-ilmu akal dan mencetuskan pemikiran-pemikiran baru adalah menjauhi sikap taklid buta. Kemunduran umat Islam dalam hal ini karena sulit meninggalkan taklid buta pada apa yang telah diperbuat generasi terdahulu. Kita terlalu mengagungkan mereka sehingga tidak lagi menghasilkan hal-hal dan pemikiran-pemikiran yang baru."